Minggu, 16 September 2012

Pengertian Taqlid



      Kata taqlid (ﺗﻗﻟﻴﺪ ) berasal dari fi’il madhi (kata dasar) ﺗﻗﻟﺪ  dan ﻗﻟﺪ   yang secara lughawi berarti “mengalungkan” atau “menjadikan kalung”. Kata taqlid mempunyai hubungan rapat dengan kata qaladah ( ﻗﻼﺪﺓ  ), sedangkan qaladah itu sendiri berarti kalung. Menurut asalnya, ﻗﻼﺪﺓ (kalung) itu digunakan untuk sesuatu yang diletakkan membelit leher seekor hewan; dan hewan yang dikalungi itu mengikuti sepenuhnya ke mana saja kalung itu ditarik orang. Kalau yang dijadikan “kalung” itu adalah “pendapat” atau “perkataan” seseorang, maka berarti orang yang dikalungi itu akan mengikuti “pendapat” orang itu tanpa mempertanyakan lagi kenapa pendapat orang tersebut demikian.
Di antara definisi tentang taqlid tersebut, ialah:

1.      Al-Ghazali memberikan definisi:
ﻗﺑﻮﻞ ﻗﻮﻞ ﺑﻼ ﺣﺟﺔ
Menerima ucapan tanpa hujjah.

2.      Dr. Zakiyyuddin Tsa’ban menta’rifkan Taqlid sbb:
ﺍﻟﺗﻗﻟﻴﺪ ﻫﻮﺍﻷﺧﺫ ﺑﻗﻮﻝ ﺍﻠﻐﻴﺮﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺪﻟﻴﻠﻪ
                   Taqlid ialah, menerima/mengikuti perkataan orang lain tanpa mengatahui dari mana sumber perkataan itu.
3.      Amir Bad Syah dalam Tafsir At-Tahrir mengartikan taqlid dengan:
ﺍﻟﻌﻣﻝ ﺑﻗﻭﻝ ﺍﻟﻐﻴﺮﻣﻦ ﻏﻴﺮﺣﺟﺔ
                 Beramal dengan pendapat orang lain tanpa mengetahui dasar hukumnya.

                        Dari penjelasan dan analisis tentang definisi-definisi di atas, dapat dirumuskan hakikat taqlid, yaitu:
1.      Taqlid itu adalah beramal dengan mengikuti ucapan atau pendapat orang lain.
2.      Pendapat atau ucapan orang lain yang diikuti itu tidak bernilai hujjah.
3.      Orang yang mengikuti pendapat orang lain itu tidak mengetahui sebab-sebab atau dalil-dalil dan hujjah dari pendapat yang diikutinya itu.


Referensi :

·         Amir Syarifuddin, Ushul Fiqh jilid 2, Ciputat: PT. LOGOS Wacana Ilmu, 2001.
·         Ahmad Abd. Madjid, Ushul Fiqh, Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah, 1994. 
·         Abd. Jabbar Adlan, Dirasat Islamiyyah, Surabaya: CV. Anika Bahagia, 1995.

2 komentar: