Minggu, 23 Juni 2013

KAIDAH-KAIDAH USHULIYAH



A. Pengertian Kaidah Ushuliyah

Menurut M. Hasbi ash-Shiddiqi, yang dikutip oleh Drs. H. Muchlis Usman, M.A., kaidah-kaidah ushuliyah disebut juga kaidah-kaidah istinbathiyah, yaitu kaidah-kaidah yang berkaitan dengan metode uslub-uslub maupun tarkibnya. Kaidah istinbathiyah banyak berkaitan dengan amar, nahyu, ‘amm, khash, muthlaq, musytarak, muqayyad, mujmal, mufasshal.[1]
Menurut Prof. Dr. Juhaya S. Praja, di dalam bukunya Ilmu Ushul Fiqih, menyatakan bahwa kaidah ushuliyah adalah sejumlah peraturan untuk menggali hukum.[2] 

B. ‘Amm

1. Pengertian Lafazh ‘Amm

Lafazh ‘amm ialah suatu lafazh yang menunjukkan satu makna yang mencakup seluruh satuan yang tidak terbatas dalam jumlah tertentu.[3]

2. Macam-macam Lafazh ‘Amm

Penelitian terhadap kata-kata dan susunan kalimat dalam bahasa Arab menunjukkan bahwasanya lafazh-lafazh yang berdasarkan penetapan kebahasaanya menunjukkan terhadap keumuman dan penghabisan seluruh satuan-satuannya ialah sebagai berikut:[4]
a. Lafazh kullu (tiap-tiap) dan lafazh jami’ (semua)
@ä. <§øÿtR èps)ͬ!#sŒ ÏNöqpRùQ$# ÇÊÑÎÈ  
uqèd Ï%©!$# šYn=y{ Nä3s9 $¨B Îû ÇÚöF{$# $YèŠÏJy_  ÇËÒÈ
b. Lafazh mufrad (kata benda tunggal) yang dimakrifatkan dengan alif lam (ﺍﻝ) untuk memakrifatkan jenis.
èpuÏR#¨9$# ÎT#¨9$#ur ÇËÈ  
c. Bentuk jama’ yang dimakrifatkan dengan alif lam penta’rifan jenis.
àM»s)¯=sÜßJø9$#ur šÆóÁ­/uŽtItƒ £`ÎgÅ¡àÿRr'Î/ spsW»n=rO &äÿrãè% 4  ÇËËÑÈ  
d. Isim maushulah.
tûïÏ%©!$#ur tbqãBötƒ ÏM»oY|ÁósßJø9$# ÇÍÈ  
e. Isim syarat
 `tBur Ÿ@tFs% $·YÏB÷sãB $\«sÜyz ㍃̍óstGsù 7pt7s%u 7poYÏB÷sB ㍃̍óstGsù 7pt6s%u 7poYÏB÷sB  ÇÒËÈ  
f. Isim nakirah pada bentuk naïf (peniadaan) artinya isim nakirah yang ditiadakan.
(#qà)¨?$#ur $YBöqtƒ žw ÌøgrB ë§øÿtR `tã <§øÿ¯R $\«øx©  ÇÍÑÈ  

C. Khash

1. Pengertian Lafazh Khash

Para ulama ushul berbeda pendapat dalam memberikan definisi khash. Namun, pada hakikatnya definisi tersebut mempunyai pengertian yang sama. Definisi yang dapat dikemukakan di sini, antara lain:

ﻫﻭ ﺍﻟﻟﻓﻅ ﺍﻟﻣﻭﺿﻭﻉ ﻟﻣﻌﻧﻰ ﻭﺍﺤﺩ ﻣﻌﻟﻭﻡ ﻋﻟﻰ ﺍﻹﻧﻓﺭﺍﺩ
Artinya:
Suatu lafazh yang dipasangkan pada satu arti yang sudah diketahui (ma’lum) dan menunggal. ”[5]

2. Hukum Lafazh Khash

Lafazh yang terdapat pada nash syara’ menunjukkan satu makna tertentu dengan pasti selama tidak ada dalil yang mengubah maknanya itu. dengan demikian, apabila ada suatu kemungkinan arti lain yang tidak berdasar pada dalil, maka ke-qath’ian dilalah-nya tidak terpengaruhi.
Oleh karena itu, apabila lafazh khash dikemukakan dalam bentuk mutlaq, tanpa batasan apapun, maka lafazh itu memberi faedah ketetapan hukum secara mutlaq, selama tidak ada dalil yang membatasinya. Dan bila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk perintah, maka ia memberikan faedah berupa hukum wajib bagi yang diperintahkan, selama tidak ada dalil yang memalingkannya pada makna yang lain. demikian juga apabila lafazh itu dikemukakan dalam bentuk larangan, ia memberikan faedah berupa hukum haram terhadap hal yang dilarang itu, selama tidak ada qarinah (indikasi) yang memalingkan dari hal itu.[6]

3. Macam-macam Lafazh Khash

Lafazh khash itu bentuknya banyak, sesuai dengan keadaan dan sifat yang dipakai pada lafazh itu sendiri. Ia kadang-kadang berbentuk mutlaq tanpa dibatasi oleh suatu syarat atau qayyid apapun, kadang-kadang berbentuk muqayyad, yakni dibatasi oleh qayyid, kadang-kadang berbentuk amr, dan kadang-kadang berbentuk nahyi.
Dengan demikian, macam-macam lafazh khash mencakup mutlaq, muqayyad, amr, dan nahyi.[7] 

D. Amar

1. Pengertian Lafazh Amar

Menurut jumhur ulama Ushul, definisi amar adalah lafazh yang menunjukkan tuntutan dari atasan kepada bawahannya untuk mengerjakan suatu pekerjaan.[8]

2. Hukum Lafazh Amar

Menurut Dr. Muhammad Zakariya al-Bardisy, yang dikutip oleh H. Ahmad Abd. Madjid, M.A. di dalam bukunya Ushul Fiqih, “Jumhur sepakat menyatakan bahwa amar menunjukkan atas wajibnya suatu tuntutan yang secara muthlaq selama tidak ada qarinah (hubungan sesuatu) dari pada ketentuan amar tersebut”. Juga berdasarkan kaidah:
ﺍﻷﺼﻞ ﻓﻰ ﺍﻷﻣﺭﺍﻟﻭﺟﻭﺏ
Artinya: “Arti pokok dalam amar ialah menunjukkan wajib (wajibnya perbuatan yang diperintahkan)”.
Contoh, firman Allah Swt.:
øŒÎ)ur $oYù=è% Ïps3Í´¯»n=uKù=Ï9 (#rßàfó$# tPyŠKy (#ÿrßyf|¡sù HwÎ) }§ŠÎ=ö/Î)  ÇÌÍÈ  
Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam,” Maka sujudlah mereka kecuali Iblis”.
Dan juga amar menunjukkan atasnya anjuran (nadab), berdasarkan kaidah:
ﺍﻷﺼﻞ ﻓﻰ ﺍﻷﻣﺭﺍﻟﻨﺩﺏ
Artinya: “Arti pokok dalam amar ialah menunjukkan anjuran (nadab)”.
Suruhan itu memang adakalanya untuk suruhan (wajib) seperti sembahyang lima waktu, ada kalanya untuk anjuran seperti sembahyang dhuha. Antara kemestian dan anjuran yang paling diyakini adalah anjuran.
Kesimpulannya, amar tetap mengandung arti wajib, kecuali apabila amar tadi sudah tidak mutlaq lagi, lagi pula terdapat qarinah yang dapat merubah ketentuan tersebut, maka amar itu berubah pula, yakni tidak menunjukkan wajib, tetapi menjadi bentuk yang menunjukkan kepada hukum sunnat atau mubah dan lain sebagainya sesuai dengan qarinah yang mempengaruhinya.[9]

3. Macam-macam Lafazh Amar

a. Berbentuk fi’il amar (perintah langsung)
(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨9$# (#qãèx.ö$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ  
b. Berbentuk fi’il mudhari’ yang didahului oleh lam amar
(#qèù§q©Üuø9ur ÏMøŠt7ø9$$Î/ È,ŠÏFyèø9$# ÇËÒÈ  
c. Dan lain-lain sebagainya yang semakna seperti lafazh faradha, kutiba, dsb.

E. Nahyu

1. Pengertian Lafazh Nahyu

Menurut ulama ushul, definisi nahyu adalah kebalikan dari amar yakni lafazh yang menunjukkan tuntutan untuk meninggalkan sesuatu (tuntutan yang mesti dikerjakan) dari atasan kepada bawahan.[10]

2. Hukum Lafazh Nahyu

 Seperti yang disebutkan dalam kaidah:
ﺍﻷﺼﻞ ﻓﻰ ﺍﻟﻨﻬﻲ ﺍﻟﺗﺣﺭﻳﻡ
Artinya: “Bermula larangan itu menunjukkan haram (haramnya pebuatan yang dilarang)”.
Kecuali apabila ada qarinah yang mempengaruhinya, maka nahi tadi tidak lagi menunjukkan hukum haram, tetapi menunjukkan hukum makruh, mubah, dan sebagainya, sesuai dengan qarinah yang mempengaruhinya itu.[11]
Bentuk nahi itu hanya satu yaitu, fi’il mudhari yang diserta nahi:
Ÿw (#qç/tø)s? no4qn=¢Á9$# óOçFRr&ur 3t»s3ß  ÇÍÌÈ  

F. Muthlaq dan Muqayyad

1. Pengertian Lafazh Muthlaq

Yang di maksud dengan muthlaq adalah suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu tanpa pembatasan yang dapat mempersempit keluasan artinya.[12]
Contoh:
㍃̍óstGsù 7pt7s%u  ÇÌÈ  

2. Pengertian Lafazh Muqayyad

Yang di maksud dengan muqayyad ialah suatu lafazh yang menunjukkan hakikat sesuatu yang yang dibatasi dengan suatu pembatasan yang mempersempit keluasan artinya.[13]
Contoh:
㍃̍óstGsù 7pt7s%u 7poYÏB÷sB  ÇÒËÈ  

3. Hukum Lafazh Muthlaq dan Muqayyad

Pada prinsipnya para ulama sepakat bahwa hukum lafazh muthlaq itu wajib diamalkan ke-muthlaq-annya, selama tidak ada dalil yang membatasi ke-mutlaq-annya. Begitu juga hukum lafazh muqayyad itu berlaku kepada ke-muqayyad-annya. Yang menjadi persoalannya di sini adalah muthlaq dan muqayyad ada yang disepakati dan diperselisihkan.[14]
Yang disepakati:
a. Hukum dan sebabnya sama.
b. Hukum dan sebabnya berbeda.
c. Hukumnya berbeda sedangkan sebabnya sama.
Yang diperselisihkan:
a.  Ke-muthlaq-an dan ke-muqayyad-an terdapat pada sebab hukum.
b. Muthlaq dan muqayyad terdapat pada nash yang sama hukumnya, namun sebabnya berbeda.

G. Musytarak

1. Pengertian Lafazh Musytarak

Lafazh musytarak ialah lafazh yang diletakkan untuk dua makna atau lebih dengan peletakan yang bermacam-macam, dimana lafazh itu menunjukkan makna yang ditetapkan secara bergantian, artinya lafazh itu menunjukkan makna ini atau makna itu.[15]

2. Contoh Lafazh Musytarak

Misalnya kata yad (tangan) dalam firman Allah Swt.:
ä-Í$¡¡9$#ur èps%Í$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ÷ƒr& ÇÌÑÈ    
Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya…”.

Kata tersebut adalah musytarak antara dzira’ (dari ujung jari hingga bahu), antara telapak tangan dan lengan (dari ujung jari sampai dengan siku), dan telapak tangan (dari ujung jari sampai pergelangan tangan) dan antara tangan kiri dan kanan. Jumhur mujtahid beristidlal dengan sunnah amaliyyah untuk menentukan yang dimaksud dengan tangan pada ayat itu, yaitu makna yang terakhir, yakni dari ujung jari sampai dengan dua pergelangan pada tangan kanan.[16]


[1] Muchlis Usman, Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Cet. Ke-4,  2002), hlm. 15.
[2] Rachmat Syafe’i, Ilmu Ushul Fiqih, (Bandung: CV. Pustaka Setia, Cet. Ke-1, 1998), hlm. 147.
[3] Ibid, hlm. 193.
[4] Abdul Wahhab Khallaf, Ilm Ushul Fiqh, terjemahan Moh. Zuhri dan Ahmad Qarib: Ilmu Ushul Fiqh, (Semarang: Dina Utama, Cet. Ke-1, 1994), hlm. 279-282.
[5] Rachmat Syafe’i, Op.cit., hlm. 187.
[6] Ibid., hlm. 187-188.
[7] Ibid., hlm. 192.
[8] Ibid., hlm. 200.
[9] Ahmad Abd. Madjid, Ushul Fiqih, (Pasuruan: PT. Garoeda Buana Indah, Cet. ke-4, 1994), hlm. 180-182.
[10] Rachmat Syafe’i, Op.cit., hlm. 207.
[11] Ahmad Abd. Madjid, Op.cit., hlm. 194-195.
[12] Rachmat Syafe’i, Op.cit., hlm. 212.
[13] Ibid.
[14] Ibid., hlm. 213.
[15] Abdul Wahhab Khallaf, Ilm Ushul Fiqh, terjemahan Moh. Zuhri dan Ahmad Qarib, Op.cit., hlm. 273.
[16] Ibid., hlm. 275.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar